<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Nia&#039;s digital Diary</title>
	<atom:link href="http://cintaniati.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cintaniati.wordpress.com</link>
	<description>Nia&#039;s diary contains everythings that she wants :D</description>
	<lastBuildDate>Sun, 10 Jul 2011 13:26:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cintaniati.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/1569509b8c240c1884a0d842a72abd8c?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Nia&#039;s digital Diary</title>
		<link>http://cintaniati.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cintaniati.wordpress.com/osd.xml" title="Nia&#039;s digital Diary" />
	<atom:link rel='hub' href='http://cintaniati.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>I (wanna be) the same Old Nia</title>
		<link>http://cintaniati.wordpress.com/2011/07/10/i-wanna-be-the-same-old-nia/</link>
		<comments>http://cintaniati.wordpress.com/2011/07/10/i-wanna-be-the-same-old-nia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 13:26:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintaniati</dc:creator>
				<category><![CDATA[my mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaniati.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu aku jalan-jalan ke PRJ bersama adik dan kakakku. Sekedar refreshing dan melepas ridu di kota perantauan sambil cuci mata dan survey harga (banyak amat tujuanx). Keliling-keliling lihat piala UEFA, ke stan motor sport &#38; helmnya, stan hi-tect sampe rumah hantu (masalah beginian, aku dan sodara kompak banget satu selera). Lihat-lihat barang, tertujulah kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=80&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Malam itu aku jalan-jalan ke PRJ bersama adik dan kakakku. Sekedar refreshing dan melepas ridu di kota perantauan sambil cuci mata dan survey harga (banyak amat tujuanx). Keliling-keliling lihat piala UEFA, ke stan motor sport &amp; helmnya, stan <em>hi-tect</em> sampe rumah hantu (masalah beginian, aku dan sodara kompak banget satu selera). Lihat-lihat barang, tertujulah kami pada stan jaket ‘eheem’ yang sudah lama kuinginkan (namanya satu selera, bisa ditebak klo kita saling mupeng). Mulai deh, yang awalnya nggak niat beli jadi kepingin, sifat ceweknya muncul T_T</p>
<p>Tiba-tiba sang sodara menjadikan aku sebagai subyek calon pembeli sekaligus obyek tempat mengukur rancangan jaket bagi si penjualnya. Loh..loh&#8230; cuman aku yg mau beli, wah..cepet amat sih dia mutusin, kan aku lihat-lihat dulu. Ternyata sodaraku dan si penjual bergerak lebih cepat dari dugaanku, dan emang dasar akunya ngiler juga, ngikut aja dengan arus yg terjadi. “Sekitar 1,5 kalo yang ini” kata si penjual sambil menunjuk gambar yg dimaksud. Buset.. aku bisa beli 5-7 jaket yang lumayan berkualitas dengan harga segitu. “Jaket ‘eheem’ emang mahal” begitu kata sodaraku, “lagian cuma beli sekali buat seumur hidup, gak apa-apa lah&#8230;”</p>
<p>Mikir&#8230;mulai ragu&#8230; sedangkan sodaraku yg satu lagi cuma duduk di pinggir dengan tampang malas, ‘nih dua orang konsumtif banget sih, apa kerennya jaket gituan’ mungkin itu pikirannya. Ehm&#8230; (berhubung aku pemegang keputusan, iyalah wong aku yg dijadikan subyek sama sodaraku), akhirnya kita cuma minta kartu nama sang penjual. “suatu saat..” pikirku, aku akan bener-bener beli</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Esoknya aku dan adikku ke BSD, ambil motor dan servis hati mingguan. Aku kembali ke Jakarta sedang dia ke jurang mangu. Kuputuskan naik KRL, jadwal keberangkatan terdekat adalah kelas ekonomi. Hmm&#8230; it’s okay, siang-siang begini insyaAllah masih dapat tempat duduk. Dan benarlah.. ketika KRL datang aku dapat duduk dengan tenang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kelas ekonomi, kelas termurah dalam KRL ini (ya iya lah.. dimana2 kelas ekonomi pasti yg paling murah, kecuali kalo ada tambahan kelas promo, bisa2 dibawah ekonomi). Satu.. dua..tiga.. pedagang asongan mulai berkeliling, penumpang berdatangan dari stasiun berikutnya, lelaki paruh baya, abg gaul dengan celana pensilnya, ibu-ibu menggendong anak. Pedagang tetap berkeliling menawarkan dagangannya, sepatu butut, celana berlubang, kaos usang. Suara serak keluar dari mulut pengamen kecil. Astaghfirullah&#8230; Ya Allah&#8230; Ya Allah&#8230; Astaghfirullah, hatiku menangis, aku malu, bersedih dengan kondisiku sendiri. Kemarin malam aku tergoda, dan siang ini Engkau Mengingatkanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemarin malam, ketika aku tertarik membeli jaket dengan harga lebih dari biasanya, hatiku berperang,</p>
<p>‘Cuma sekali, kan aku sudah ingin sejak sangat lama’</p>
<p>‘Yang bener aja, masa aku mau belanjakan uang sebanyak itu cuma buat sepotong jaket’</p>
<p>‘Eh.. ini termasuk murah, kalau di tempat lain mana boleh harga segini, lagian kualitasnya terlihat bagus’</p>
<p>‘Yang ngaku-ngaku pecinta lingkungan mau beli jaket macam beginian? Kalo diluar negeri aku bisa disumpahin sama aktivisnya’</p>
<p>‘Kan aku beli pake uangku sendiri, ntar juga terkumpul lagi&#8230; masih bisa&#8230;.’</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Astaghfirullah&#8230; sombongnya aku yang sudah bisa beli apa-apa dengan uang sendiri. Darimana itu semua? Darimana? Darimana jika bukan karena rahmat-Nya. Teringat komen salah seorang sepupuku di wall di hari jadiku beberapa saat yang lalu.. ‘U make me remember our beloved Nde’.   Nde&#8230; adalah seseorang yang sangat berharga dan berpengaruh di keluarga besar ibuku. Nafas terakhirnya hanya terpaut hari dari nafas pertamaku di dunia ini. Nde adalah seorang yang shalih, salah satu tokoh di desa ibuku, aktivis, tampan, baik hati dan penyayang, bagiku benar-benar sempurna. Nde telah melakukan banyak hal untuk keluarga besarku, mendidiknya untuk semakin shalih, dan dia pun telah melakukan banyak hal untuk memperbaiki masyarakatnya. Allah mengambilnya di dunia ini, dan mengizinkanku untuk terlahir di dunia. Menggantikan rasa  kehilangan yang dirasakan ibuku dengan sedikit kebahagiaan, walaupun itu tak sebanding. Astaghfirullah, serasa Allah mengirimkanku ke dunia untuk menggantikannya, namun di usiaku yang sekarang, apa yang telah kulakukan, untuk keluargaku, untuk masyarakatku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Astaghfirullah, malunya aku bila suatu saat di akhirat sana Nde bertanya padaku, ‘apa yang telah kaulakukan di dunia untuk menggantikan keberadaanku?’ ‘Apa yang telah kaulakukan untuk keluargamu, masyarakatmu?’ Hanya seorang Nde, dan aku sudah merasa malu, bagaimana dihadapan para pejuang, bung Tomo, Ahmad Dahlan, Sudirman, apalagi dihadapan Rasulullah, bagaimana malunya aku dihadapan Allah. Allah memberikanku keluarga yang lengkap, tanpa kekurangan, ayah dan ibu yang baik, hidup cukup tanpa kekurangan, pendidikan sampai sarjana, tanpa kendala sedikitpun. Dan setelah mulai menuai sukses dengan sombongnya aku membelanjakan uangku dengan seenak hati. Untuk apa Allah memberiku ini semua, untuk apa? Allah telah memberiku keluarga yang lengkap tapi aku membiarkan anak-anak yatim tak terurus. Allah memberiku keluarga yang harmonis tapi aku tidak berbuat apapun untuk menyelamatkan anak-anak jalanan broken home dari rumah tangga orang tuanya, dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan ayah / ibunya, Aku tidak menghiburnya bahkan berkenalan pun tidak. Allah memberikan pendidikan padaku sampai tinggi tapi aku belum punya adik asuh satu pun, belum menularkan ilmuku pada anak-anak putus sekolah, atau mengajari para tamatan SMA/K agar lebih terampil.</p>
<p>Aku belum&#8230;. aku belum melakukan apapun&#8230;. Allah Mengizinkanku mampu membaca Qur’an, memberiku kesempatan untuk terus memperdalam agamaku, tapi aku tidak memanfaatkan dengan baik, berapa orang buta huruf arab yang telah mampu membaca dariku? Tak ada&#8230; aku tak pernah mengajarkannya. Astaghfirullah&#8230; aku bangga dengan kemampuanku, bangga dengan semua yang kumiliki, tapi lupa alasan mengapa Allah memberikanku itu semua. Rasanya tak pernah aku hidup susah sejak pertama kali bernafas, tapi tak bersyukur dengan menyalurkannya ke orang lain, dengan mewujudkan kebahagiaan orang lain seperti kebahagiaan yang kurasakan saat ini dan kurasakan setiap hari.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>‘Maka nikmat Rabb-mu manakah yang kamu dustakan?’ Astagfirullah&#8230; Ya Allah&#8230; ampuni aku, maafkan aku. Izinkan aku tetap menjadi diriku yang dulu. Jangan biarkan dunia mengubahku menjadi orang yang tak peduli. Jangan tenggelamkan aku di gemerlapnya dunia yang fana ini. Ya Rabb ampuni aku yang belum melakukan apapun di usiaku yang telah mampu. Yaa Muqallibal-qulb, tsabbit qolbi ‘alaa diinik, ‘alaal Imaan, ‘alaa syukr.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaniati.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaniati.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaniati.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaniati.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaniati.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaniati.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaniati.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaniati.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaniati.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaniati.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaniati.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaniati.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaniati.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaniati.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=80&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaniati.wordpress.com/2011/07/10/i-wanna-be-the-same-old-nia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61eeca3a13c398070a3c30d39b530d36?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cintaniati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Robbighfirli Waliwalidaya warhamhuma kama Robbayani shoghiro</title>
		<link>http://cintaniati.wordpress.com/2011/02/20/robbighfirli-waliwalidaya-warhamhuma-kama-robbayani-shoghiro/</link>
		<comments>http://cintaniati.wordpress.com/2011/02/20/robbighfirli-waliwalidaya-warhamhuma-kama-robbayani-shoghiro/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Feb 2011 14:16:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintaniati</dc:creator>
				<category><![CDATA[my mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaniati.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa waktu yang lalu saat lagi di ruang tengah kosan, ada iklan TV yang menampilkan banyak anak kecil. Iklan yang mirip iklan penjualan unit televisi ini ternyata mempromosikan susu formula. Komentar pun mulai bermunculan, “bagus ya iklan ini” “anaknya lucu-lucu.. apalagi yg muncul pertama” “Itu produk susunya bagus lho.. tapi ya gitu mahal, kata temenku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=76&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa waktu yang lalu saat lagi di ruang tengah kosan, ada iklan TV yang menampilkan banyak anak kecil. Iklan yang mirip iklan penjualan unit televisi ini ternyata mempromosikan susu formula. Komentar pun mulai bermunculan,</p>
<p>“bagus ya iklan ini”</p>
<p>“anaknya lucu-lucu.. apalagi yg muncul pertama”</p>
<p>“Itu produk susunya bagus lho.. tapi ya gitu mahal, kata temenku sekaleng 225 ribu, dan anaknya ngabisin satu kaleng dalam seminggu.”</p>
<p>“wow gila.. mahal amat….Sebulan sejuta dong cuma buat susu doang”</p>
<p>“iya emang mahal, tapi kualitasnya bagus. Anaknya jadi cerdas gitu, badannya juga bagus. Tapi katanya sih begitu merk susunya diganti yang lebih murah, anaknya nggak mau minum, sudah keenakan dia minum yang mahal.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Hmm… sebulan sejuta cuma buat susu. Aku mulai berpikir… jadi kalo misalnya ngerencanain ngasih anak susu formula terbaik sampai genap 5 tahun bakalan :</p>
<p>1 juta x 12 (bulan) x  4 (tahun) = 48 juta à anggap aja yang 1 tahun asi eksklusif<span id="more-76"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wow.. pengeluaran orang tua buat susu aja bakalan 48 juta dalam 5 tahun pertama buah hatinya. Aku teringat pembicaraan ibu dan iparku setahun yang lalu “….Iya, Nia dulu waktu kecil juga minum susu itu, emang mahal mbak, tapi bagus..”. Dan aku terus minum susu setiap hari sampai kakiku beranjak meninggalkan kota kelahiranku untuk bekerja. Bahkan aku milkholic, pusing minum susu, pingin ngemil bikin susu kental, kalo bikin juz dikasih susu yg ekstra banyak, so on… and so..on. Walau bukan lagi susu formula yang kuminum, tapi bisa dibilang aku telah minum susu sebanyak jumlah umurku – 1 tahun. Lalu berapa nominal yg telah dikeluarkan orang tuaku hanya untuk susu? sesuatu yang tidak begitu urgent diberikan pada anaknya yg telah meninggalkan status balita, sesuatu yg bahkan orang tua lainnya belum tentu memberikan pada anaknya. Dan orang tuaku tidak memulai rumah tangganya dengan keadaan berpunya.</p>
<p>****</p>
<p>Dua hari yang lalu saat istirahat makan siang, perbincangan mengenai wanita karir dan kewajibannya sebagai seorang ibu dan alasan kawan kerjaku pindah menjadi PNS menjadi topik utama.</p>
<p>“Kalo PNS kan bisa lebih santai, ya aku nggak mau lah nggak professional suka cabut dari tempat kerja, tapi setidaknya sesibuk apapun nanti, nggak bakal sampai pulang pagi. Aku masih punya waktu untuk yang lain”</p>
<p>“Iya… kalo perempuan juga harus mikirin anak juga kan? Emang kayaknya yang pas kalo tetep mau berkarir ya di PNS, atau wirausaha sekalian, jadi waktunya lebih fleksibel.”</p>
<p>“Kalo aku sih emang berencana jadi ibu rumah tangga, kan wirausahanya sudah mulai jalan”</p>
<p>“Iya ini mbak, hebat banget ilmunya, butikmu laris manis.”</p>
<p>“Sepertinya emang ibu itu harusnya lebih banyak dirumah ya.. kerja dari rumah, biar anak-anaknya terawat”</p>
<p>“Tapi.. kalo menurutku lebih kearah kualitas waktu pertemuan mbak, bukan kuantitasnya”</p>
<p>“Iya bener banget..” aku langsung menimpali, “ibuku juga kerja kok mbak, tapi anak-anaknya baik-baik aja, pada nurut semua.”</p>
<p>Aku langsung menceritakan panjang lebar tentang kebiasaan ibuku saat aku kecil, ingin memberikan gambaran pada temanku yang lain bahwa tidak semua wanita karier tidak bisa meng-handle anaknya.</p>
<p>“Aku dulu harus sudah bangun ketika ibuku belum berangkat kerja, yang mandikan tetep beliau, tapi yang ngurus seragam dan sarapanku pembantu. Sepulang kerja jika beliau istirahat, anak-anaknya pada main bola. Kalo nggak sedang istirahat kita nonton tv bareng. Di rumahku dulu, setelah makan malam tv harus mati, dan baru boleh dinyalakan setelah jam 9. Ibuku gantian sih ngajarinnya, kadang aku, kadang adikku, kadang mas-masku. Kalo mau ujian mbak, bukuku dibawa ibuku ke kantor, dipelajari dulu, biasanya sekalian dibikinin soal-soal. Jadi malamnya tinggal main tebak-tebakan sama ibuku, kalo aku nggak mudeng akan diajarin lagi. Biasanya hari minggu ibuku suka masak menu special, trus kita sarapan bareng sambil nonton film kartun” Aku menutup cerita singkat sembari mengingat masa kecilku yg begitu indah.</p>
<p>Bangga… baru merasakan betapa bangganya aku pada ibuku yang tetap bisa mencurahkan semua perhatian pada anak-anaknya walau beliau harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Oh.. adakah ibu lain yang sempat memandikan anaknya setelah selesai memasak dan diburu waktu untuk kerja? Adakah ibu lain yang langsung mengambil alih semua pekerjaan selepas pulang kerja? Adakah ibu lain yang merelakan waktu istirahat kantor untuk membaca buku pelajaran anaknya? Berapa banyak ibu yang rela nggak nonton TV agar anak-anaknya belajar? Memeriksa PR anak-anaknya selepas mengantarkan mereka tidur. Dan kami anak-anaknya menikmati pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi favorit tanpa harus melakukan kecurangan sedikitpun.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya Rabb..</p>
<p>Untuk setiap tetes susu yang telah kuteguk</p>
<p>untuk setiap tetes peluh dan mata yang terjaga menahan kantuk</p>
<p>untuk setiap kecemasan kala aku sakit dan kala aku tak segera pulang ke rumah</p>
<p>untuk setiap perbuatanku yang membuat mereka menahan amarah</p>
<p>untuk setiap tetes air mata yang tertumpah pada sujud-sujud mereka di malam hari</p>
<p>demi mendoakan kami—yang bahkan belum berbakti—dengan sangat terperinci</p>
<p>hapuskanlah dosa-dosa mereka</p>
<p>ampunilah segala khilafnya</p>
<p>berkahilah umurnya dan berikanlah kesehatan sampai akhir hayatnya</p>
<p>rawat dan bahagiakanlah mereka seperti mereka merawat dan membahagiakan kami.</p>
<p>Selamatkan kami semua di dunia-Mu yang fana ini, dan di akhirat-Mu yang kekal nanti</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaniati.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaniati.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaniati.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaniati.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaniati.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaniati.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaniati.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaniati.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaniati.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaniati.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaniati.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaniati.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaniati.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaniati.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=76&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaniati.wordpress.com/2011/02/20/robbighfirli-waliwalidaya-warhamhuma-kama-robbayani-shoghiro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61eeca3a13c398070a3c30d39b530d36?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cintaniati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Mencintai Anjing</title>
		<link>http://cintaniati.wordpress.com/2011/01/29/belajar-mencintai-anjing/</link>
		<comments>http://cintaniati.wordpress.com/2011/01/29/belajar-mencintai-anjing/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 09:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintaniati</dc:creator>
				<category><![CDATA[my mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaniati.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Anjing&#8230; binatang yang gak asing di telinga kita. Sebagian orang menjadikan dia sbg sahabat, teman bermain, bahkan kalo di belahan bumi bagian barat, anjing laksana anak bagi majikannya. Tp buatku&#8230; boro2 jadi sahabat, dideketin aja sudah dag..dig..dug duerr.. Mungkin karena waktu kecil dulu aku pernah dikejar dan digigit anjing (untung g ada rabiesnya.. fiuh&#8230;), lagipula [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=73&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anjing&#8230; binatang yang gak asing di telinga kita. Sebagian orang menjadikan dia sbg sahabat, teman bermain, bahkan kalo di belahan bumi bagian barat, anjing laksana anak bagi majikannya. Tp buatku&#8230; boro2 jadi sahabat, dideketin aja sudah dag..dig..dug duerr..</p>
<p>Mungkin karena waktu kecil dulu aku pernah dikejar dan digigit anjing (untung g ada rabiesnya.. fiuh&#8230;), lagipula air liur anjing merupakan barang najis buatku. Kupikir salah besar kalo orang2 nganggep anjing itu nggak berbahaya, dia masih punya taring tajam, apalagi untuk ukuran yg sedang-besar.. mengerikan banget. Di televisi juga beberapa kali ditayangkan tentang penyerangan anjing pada manusia (ingetku ada yg berujung kematian krn dikeroyok 4 herder).<span id="more-73"></span></p>
<p>Saking sebelnya sama orang yang ngebiarin anjingnya berkeliaran (apalagi tuh anjing pake menyalak segala, spooky&#8230;), kadang muncul rasa dendam pingin ngebales &#8220;ah.. liat aja nanti kalo aq dah punya duit. Aku bakalan pelihara kucing besar, minimal ocelot lah, macan kumbang atau macan tutul kalo bisa. Trus kubiarin berkeliaran di tempat banyak anjing berkeliaran, biar pada takut tuh anjing g brani keliaran (orang2 juga takut kali ya).&#8221;</p>
<p>Bagai keluar dari sarang ular masuk ke kandang buaya, pindah kos dari daerah anggrek loka ke rawabuntu nggak menyelesaikan masalah. Jumlah anjing berkeliaran lebih banyak (dulu yg besar paling2 jenis lessie, eh sekarang ada kintamani dan rootweiler) dan lebih beragam. Mereka kadang duduk di tengah jalan, bongkar2 tempat sampah yang ada di depan kos, tidur di depan  pintu samping (tempat aku masukin motor).</p>
<p>Tapi justru karena itu Allah ngasih aku training gratis. Walaupun masih deg-degan kalo lagi papasan, setidaknya aku sudah mulai terbiasa menghadapinya. Anjing&#8230; dia tidak akan menyalak dan menggigitku bila Pemilikku tidak menghendakinya, dan sehebat apapun usahaku untuk menghindar, kami akan tetap bertemu bila Ia menghendakinya. Teringat kisah seorang perempuan dengan pekerjaan hina menikmati indahnya surga karena ia pernah memberi minum anjing yang kehausan di pinggir sumur.</p>
<p>Oh&#8230; anjing, bukankah dia juga makhluk-Nya yang senantiasa berdzikir? Mungkin dia jauh lebih baik dari manusia kebanyakan. Di sela-sela rasa takutku pada anjing, aku akan belajar mencintainya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaniati.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaniati.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaniati.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaniati.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaniati.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaniati.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaniati.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaniati.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaniati.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaniati.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaniati.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaniati.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaniati.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaniati.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=73&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaniati.wordpress.com/2011/01/29/belajar-mencintai-anjing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61eeca3a13c398070a3c30d39b530d36?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cintaniati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Fr) Agile Methodology</title>
		<link>http://cintaniati.wordpress.com/2011/01/29/agileintroduction/</link>
		<comments>http://cintaniati.wordpress.com/2011/01/29/agileintroduction/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Jan 2011 08:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintaniati</dc:creator>
				<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[Agile]]></category>
		<category><![CDATA[SDLC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaniati.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Intro Dalam membangun sebuah perangkat lunak, tim IT memiliki beberapa metode untuk mewujudkannya. Metode pembangunan perangkat lunak atau yg lebih populer dengan nama SDLC (software development life cycle) menjadi sebuah pedoman dalam pengerjaan project. Namun pengaplikasian metode-metode tersebut sangat fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing perusahaan. Sebut saja metode waterfall sebagai metode yang (menurut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=55&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Intro</strong></p>
<p>Dalam membangun sebuah perangkat lunak, tim IT memiliki beberapa metode untuk mewujudkannya. Metode pembangunan perangkat lunak atau yg lebih populer dengan nama SDLC (<em>software development life cycle</em>) menjadi sebuah pedoman dalam pengerjaan project. Namun pengaplikasian metode-metode tersebut sangat fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing perusahaan. Sebut saja metode waterfall sebagai metode yang (menurut penulis) hanya bisa diterapkan pada kondisi ideal, dimana semua <em>requirement</em> dari <em>user</em> sudah tergali lengkap, sehingga tim analis sukses dengan dokumen rancangannya, dan para kuli coding merealisasikannya dalam bentuk <em>software</em>.<span id="more-55"></span></p>
<p>Oke, cukup dengan penulisan bahasa formal, sekarang pake bahasanya penulis <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Metode <em>waterfall</em> cuma bisa jalan pada kondisi ideal dimana <em>user</em> bisa njelasin keinginannya, atau paling nggak si tim analis bisa nangkap apa yang dia mau. Nah bisa jadi karena beda lingkungan, beda ilmu dsb akhirnya si analis salah nangkap maksudnya, atau bisa aja bahkan si <em>user</em> g tau apa yg dia inginkan sehingga si analis harus bolak-balik ketemu dsb. Dengan kondisi yg demikian, muncullah metode <em>iterative</em> dimana si software bisa dibangun terlebih dahulu, kemudian di evaluasi bersama-sama dengan user, lalu diperbaiki, dievaluasi lagi, diperbaiki lagi, sampai pada looping yang kesekian dan si software dianggap selesai. Disini tim IT harus membuat perjanjian sama user, dia mau berapa kali looping, atau membuat kesepakatan tertulis tentang waktu pengerjaan atau scope yg mau dibikin. Kalo nggak gitu bisa jadi tim IT kelabakan, karena seperti kata salah seorang pakar ekonomi bahwa keinginan manusia itu tidak terbatas, nah lho.. mau looping berapa kali sampe si <em>user</em> puas.</p>
<p>Semakin lama waktu pengerjaan maka semakin banyak biaya yang dikeluarkan, dan bila tidak ada limitasi bisa jadi semakin mendekati ambang kehancuran bagi kedua belah pihak. Tim IT capek, usernya juga capek. Bila software yang mau dibikin cukup besar, maka lama waktu pengerjaannya juga akan lama. Akan jadi malapetaka kalo seandainya software yg sudah dikerjakan jauh2 hari itu tiba2 nggak sesuai dengan kondisi real karena kebijakan atau bisnis proses sudah berubah disaat yang sama ketika software itu dibangun. Kalo nggak bisa dibilang sia2 mungkin bisa pake kata2 <em>muspro</em> hehehe.</p>
<p>Nah.. untuk menghindari ke-<em>muspro</em>-an itu, ada sebuah metode (yang baru saja didengar penulis beberapa minggu yg lalu) dengan nama Agile Methodology.</p>
<p><strong>Apa sih Agile ini ?</strong></p>
<p>Ada temen yg nyebutnya sebagai aji gile.. kayaknya emang bakalan aji gile ritme kerjanya metodologi ini. Aku lebih suka menulisnya (Fr)agile, agile buat tim ITnya, fragile buat tim devnya (semoga nggak beneran gitu deh).</p>
<p>Sesuai dengan artinya dalam bahasa Indonesia, metode ini dipakai untuk menghadapi ketidakpastian yang dihadapi dalam membangun perangkat lunak melalui proses incremental dan model irama kerja yang berulang (iterative). So.. hampir mirip dengan iterative, namun tiap kali proses looping nya, maka ada fungsionalitas dari software yang bertambah. Secara gampangnya dibuat secara modular.</p>
<p><a href="http://cintaniati.files.wordpress.com/2011/01/agilechart.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-56" title="agilechart" src="http://cintaniati.files.wordpress.com/2011/01/agilechart.png?w=300&#038;h=240" alt="" width="300" height="240" /></a></p>
<p>Misalnya pemilik resto mau bikin software untuk rumah makannya yang sudah memiliki banyak cabang di berbagai daerah. Software yang diminta berupa pembelian, penjualan, penyimpanan bahan makanan di gudang, inventaris asset restoran, dan penggajian karyawan. Dengan banyaknya permintaan dari si pemilik restoran, maka tim IT bisa membagi-bagi pengerjaannya dalam beberapa modul. Berbeda dengan rapid yang membagi pengerjaan modul2 tersebut kedalam beberapa tim yang berbeda, Agile lebih menekankan pada fokus penyelesaian satu modul seefisien mungkin. Modul yang sudah fix akan diluncurkan setiap periode yang sudah ditentukan sebelumnya (misalnya 2 minggu sekali). Walaupun software utuhnya belum didapatkan, tapi pemilik resto sudah bisa menggunakan fitur-fitur tertentu untuk mendukung proses bisnisnya. Misalnya modul penggajian paling dahulu dikerjakan. Dengan pengerjaan yang relatif singkat pada tiap modulnya, tim IT diharapkan dapat responsif terhadap keinginan <em>user </em>(termasuk membedakan keinginan demi kebaikan proses bisnis dan hanya keinginan kurang penting)<em>. </em>Tim developer diharapkan mampu bekerja cepat sehingga modul yang dihasilkan tepat sama dengan kebijakan dan bisnis proses yang ada saat ini. Jadi si agile ini akan mendevelop dan merilis produk tepat sama dengan apa yg dibutuhkan oleh user alias konsumen.</p>
<p>Berikut manfaat yang ditawarkan Agile berdasarkan situs <a href="http://http://wedigtech.com/process-methodologies/agile_methodology.php" target="_blank">wedigtech.com</a> :</p>
<p>1. Memberikan nilai-nilai bisnis tertinggi pada awal proyek<br />
2. Meningkatkan kepuasan pelanggan<br />
3. Menyediakan pendekatan berbasis pelanggan<br />
4. Fokus pada kecepatan pengiriman<br />
5. Menyediakan keterbukaan dan visibilitas kepada pelanggan<br />
6. Menghapus hambatan dalam cara yang diprioritaskan dan sistematis<br />
7. Meningkatkan retensi karyawan dengan memberdayakan karyawan dan dengan mempromosikan pengelolaan diri, komunikasi tim, belajar, dan nilai-bangunan</p>
<p>Source : www.wedigtech.com, www.agilemethodology.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaniati.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaniati.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaniati.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaniati.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaniati.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaniati.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaniati.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaniati.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaniati.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaniati.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaniati.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaniati.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaniati.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaniati.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=55&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaniati.wordpress.com/2011/01/29/agileintroduction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61eeca3a13c398070a3c30d39b530d36?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cintaniati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cintaniati.files.wordpress.com/2011/01/agilechart.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">agilechart</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nia Kecil dan Nasi Goreng</title>
		<link>http://cintaniati.wordpress.com/2010/08/13/kisah-nia-kecil-dan-nasi-goreng/</link>
		<comments>http://cintaniati.wordpress.com/2010/08/13/kisah-nia-kecil-dan-nasi-goreng/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 16:52:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintaniati</dc:creator>
				<category><![CDATA[my mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaniati.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Suatu siang di taman kanak-kanak Sakinah (gara-gara pingin ke one-stop-shopping Sakinah, TKnya dikasih nama itu), terlihat ibu guru sedang sibuk memberikan penjelasan pada murid-muridnya “Anak-anak, hari ini makan siang kita akan beraneka ragam. Setiap anak akan diberikan satu kupon untuk ditukarkan dengan sepiring makanan. Anak-anak juga bisa melihat ibu koki memasak dan menyiapkan makanan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=51&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Suatu siang di taman kanak-kanak Sakinah (gara-gara pingin ke <em>one-stop-shopping </em>Sakinah, TKnya dikasih nama itu), terlihat ibu guru sedang sibuk memberikan penjelasan pada murid-muridnya “Anak-anak, hari ini makan siang kita akan beraneka ragam. Setiap anak akan diberikan satu kupon untuk ditukarkan dengan sepiring makanan. Anak-anak juga bisa melihat ibu koki memasak dan menyiapkan makanan yang sudah dipesan.”<span id="more-51"></span></p>
<p>“Kita boleh memilih kan bu guru?”</p>
<p>“Boleh, tetapi lebih baik anak-anak bertanya pada ibu guru dahulu, makanan apa yang sesuai untuk kita. Ibu sudah punya daftar makanan dan catatan kesehatan dari bunda kalian.”</p>
<p>“Yee…..”serentak anak-anak TK tersebut bersorak gembira. Di sekeliling mereka berjajar stan kecil yang menyediakan berbagai jenis makanan. Ibu guru kemudian memanggil muridnya satu persatu untuk memberikan kupon, seraya memberikan saran makanan apa yang sebaiknya dipesan,</p>
<p>“Aldo, kata mama nggak boleh makan telur ya? Kalau begitu jangan ambil sate telur puyuh, dadar jagung atau perkedel ya. Selain itu terserah, itu ada sayur asem, cah sawi, sate ayam, tempe, ikan, pilih yang Aldo suka”</p>
<p>“Baik Bu Guru” anak yang dipanggil Aldo menerima kupon dengan senyum riang, lalu berlari kecil menuju stan sate ayam.</p>
<p>“Dina, suka gatal-gatal ya kalo makan sari laut. Kalau begitu jangan ambil ikan dan kerang ya, selain itu boleh”</p>
<p>“Asyik…, terima kasih Bu” Gadis kecil tersebut mengambil kupon kemudian berjalan melihat-lihat isi stan sebelum menentukan pilihan.</p>
<p>Ibu guru meneruskan pekerjaannya sampai anak didiknya terpanggil semua. Halaman taman kanak-kanak tersebut kini dihiasi dengan antrian murid pada stan-stan makanan, sebagian kecil telah duduk di meja makan sambil melahap makanan yang telah di pesannya. Ibu guru tersenyum puas, murid-muridnya telah menerapkan budaya antri yang telah diajarkan, mereka tidak lagi makan sambil berjalan atau berdiri. Diujung halaman sekolah terdengar suara kecewa dari murid TK Sakinah, ternyata stan nasi goreng kehabisan stok bahan makanan. “Adik-adik maaf ya, ini bumbunya habis, kakak harus menyiapkan dulu dan agak lama. Sepertinya lebih baik memesan di stan lain ya, sudah banyak yang sepi” kata kakak yang menjadi koki stan nasi goreng. Murid-murid yang awalnya mengantri kini mulai bubar dan melihat-lihat makanan di stan lain, namun ada satu murid yang tidak beranjak dari stan tersebut.</p>
<p>“Adik nggak ke stan lain? Agak lama lho nunggunya. Nanti keburu lapar, coba ke yang lain saja, enak-enak kok”</p>
<p>“Enggak, aku  mau nasi goreng. Nggak apa-apa aku tungguin, soalnya keliatannya enak, lucu ada mentimunnya, ada tomat tapi seperti mawar” kata Nia, gadis kecil yang setia berdiri di dekat stan nasi goreng.</p>
<p>“Ini cuma hiasan dik, garnish, biar kelihatan bagus, memang bisa dimakan kok. Tapi enak atau enggaknya nasi goreng bukan dilihat dari hiasan, nunggunya sabar ya” kata kakak koki berusaha menjelaskan.</p>
<p>Ibu guru yang melihat kejadian tersebut menghampiri stan nasi goreng dan menyapa muridnya</p>
<p>“Nia nggak ke stan yang lain?” Tanya ibu Guru, “bukanya Nia nggak suka pedas ya, nasi gorengnya pakai cabai lho”</p>
<p>“Nggak bu, nggak apa-apa pedas, nasi gorengnya enak, lucu ada mawar-mawarnya, pake sosis juga, hmm.. pasti enak”</p>
<p>“Nia suka nasi goreng ya?” Tanya ibu guru lagi.</p>
<p>“Nia belum pernah makan nasi goreng bu guru, tapi pasti enak” kata Nia dengan semangat. “<em>Kruuk….</em>” Suara perut Nia terdengar, dia mulai kelaparan.</p>
<p>“Nia, itu ada sate kalau mau, nggak apa-apa makan sate aja ya, kamu kan punya maag. Atau, itu ada cah sawi, makan pakai lauk kerang, enak..nanti tubuh kita sehat makan banyak sayur..” nasehat Ibu Guru sambil memperagakan gerakan ‘sehat’ dengan mengepalkan tangan dan membentuk sudut siku dengan siku tangannya, seperti orang sedang latihan angkat beban.</p>
<p>“Enggak… Nia kuat kok, Nia mau nungguin nasi goreng” jawab si gadis kecil sambil memanyunkan bibirnya yang berbentuk huruf O. Ibu guru mulai khawatir, dia meminta sang koki untuk bergerak cepat dan menyelesaikan maha karya nasi gorengnya (Lebay mode: on). Koki yang mulai panik segera mempercepat jurus-jurusnya, bumbu yang diolahnya belum lembut benar, “<em>Ah.. nggak usah lembut, yang penting segera jadi</em>” pikir si koki dalam hati.</p>
<p>Nia mulai meringis kelaparan, sementara sang Ibu guru terlihat khawatir dengan kondisi muridnya, dia terus membujuk dengan cara apapun tetapi belum berhasil.</p>
<p>Sreng… sreng…sreng….  Nasi goreng dipindahkan dari wajan ke piring kosong. “Ah.. akhirnya selesai juga, kurang dari 5 menit, rekor baru…”kata sang koki dalam hati. Dia hanya mengkhawatirkan gadis kecil yang menanti di depannya.</p>
<p>Akhirnya… nasi goreng yang ditunggu-tunggu Nia selesai dibuat, dia tersenyum lebar, penantian dan pengorbanannya menahan lapar tidak sia-sia (lebay lagi deh). Dia segera memberikan kuponnya pada sang koki, mengambil nasi goreng yang sudah dipindahkan ke piring, kemudian bergegas menuju meja makan.</p>
<p>“Wah… Nia tadi nunggu nasi goreng ya? Sepertinya enak” kata Dina, dia awalnya mengantri ke stan nasi goreng sebelum akhirnya kakak koki menyarankan ke stan lain. Mendengar hal tersebut, Nia tersenyum, senyum kemenangan, penantian membuahkan hasil. “Tapi sayur asem sama dadar jangung juga enak, seger. Besok aku mau minta mama masak sayur asem” lanjut Dina kemudian.</p>
<p>Nia mulai menyendok nasi gorengnya, hmm… baunya sedap. Hap, dia melahap nasi goreng untuk pertama kalinya, namun, senyum sumringahnya berubah mendadak menjadi masam dan berkaca-kaca, “Pedes….., hwua….” Nia mulai menangis dan menggemparkan meja makan (lebay lagi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> )</p>
<p>Si koki bingung, dia sudah menyingkirkan cabe rawit tapi Si Nia kecil masih kepedasan. Dia kemudian mencicipi nasi goreng yang dibuatnya, “ehh…., nggak enak, keasinan, wah… gara-gara buru-buru..” batinnya dalam hati. Ternyata si Nia kecil tidak suka nasi goreng, walau tanpa cabe rawit sekalipun, rasanya tetap tidak enak, ditambah lagi si koki terlalu banyak memasukkan garam. Penantian Nia yang lama, pengorbanannya menahan lapar, tidak terbayarkan dengan nasi goreng berwujud cantik dengan <em>garnish</em> tomat berbentuk mawar.</p>
<p>Itulah, kadang kita membutuhkan sesuatu, sesuatu yang penting dalam hidup kita yang berwujud dengan berbagai bentuk dan model, seperti makanan dengan berbagai kreasinya. Kita terpikat pada sesuatu yang menarik, seperti Nia kecil yang tertarik pada nasi goreng, dia berpikir akan puas memakan nasi goreng tersebut, dan terpenuhilah kebutuhannya untuk makan. Dia menahan lapar, tidak peduli dengan maag di lambungnya, tidak peduli betapa bahayanya dia menunda pemenuhan hajat hidupnya (makan). Namun apa yang dia dapatkan, kekecewaan, ternyata harapan tak sesuai kenyataan, penantian lama berbuah kepahitan. Menyesal, andai dia turuti ibu gurunya, tak perlu dia membahayakan lambungnya, tak perlu menanti sesuatu yang tak pasti, sesuatu yang justru mengecewakan. Nia sadar, gurunya mengerti lebih baik tentang apa yang dia butuhkan, apa yang terbaik baginya. Namun egonya lebih mendominasi, seakan dia tahu apa yang terbaik untuknya, tanpa konsultasi lebih lanjut, dia putuskan sekehendak dia, menanti nasi goreng yang hanya terlihat enak diluar, namun pedas dan membakar mulutnya. Dia terlambat, kuponnya sudah tertukar, dengan sepiring nasi goreng yang ada di hadapannya. Tak mungkin ia buang, gurunya mengajarkan untuk tidak membuang makanan, lagipula ia sedang kelaparan. Namun, bagaimana dia mau menghabiskan nasi goreng tersebut, baru sedikit yang ia masukkan ke dalam mulut, rasa panas membakar segera menjalar. Lambung… dia punya maag, apa yang terjadi seandainya dia tetap memakan nasi goreng tersebut?</p>
<p>Kisah buat temen2 semua…. Jangan jadi Nia kecil yang menunggu nasi goreng tadi ya, gak jelas kok ditungguin, apalagi ternyata gak enak. Masih ada sayur asem dan lain-lain yg lebih bergizi <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaniati.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaniati.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaniati.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaniati.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaniati.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaniati.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaniati.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaniati.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaniati.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaniati.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaniati.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaniati.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaniati.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaniati.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=51&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaniati.wordpress.com/2010/08/13/kisah-nia-kecil-dan-nasi-goreng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61eeca3a13c398070a3c30d39b530d36?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cintaniati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Boikot, bagiku&#8230;.</title>
		<link>http://cintaniati.wordpress.com/2009/02/27/boikot-bagiku/</link>
		<comments>http://cintaniati.wordpress.com/2009/02/27/boikot-bagiku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 19:34:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>cintaniati</dc:creator>
				<category><![CDATA[Faith]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cintaniati.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Sekitar sebulan yang lalu palestina dihujani bom oleh Israel, begitu banyak jiwa melayang, anak-anak kecil para hafidzoh konon menjadi targetnya. Dalam suasana genting, aksi solidaritas di berbagai belahan bumi bermunculan, baik yang muslim maupun bukan. Sumbangan uang, do&#8217;a, dan seruan penghentian perang disuarakan oleh banyak pihak. Kelakuan zionis memang amat kejam, perintah PBB pun diabaikan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=33&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekitar sebulan yang lalu palestina dihujani bom oleh Israel, begitu banyak jiwa melayang, anak-anak kecil para hafidzoh konon menjadi targetnya. Dalam suasana genting, aksi solidaritas di berbagai belahan bumi bermunculan, baik yang muslim maupun bukan. Sumbangan uang, do&#8217;a, dan seruan penghentian perang disuarakan oleh banyak pihak. Kelakuan zionis memang amat kejam, perintah PBB pun diabaikan. Namun akhirnya, terjadilah gencatan senjata, perang pun mereda. <em>But wait, is this the end? Or there will be another war?<span id="more-33"></span></em>Seminggu yg lalu aku sempat bertanya pada seorang teman yang sedang membagikan barang dagangannya yang tersisa.  Lalu iseng aku bertanya, ini bukan produk nestle lagi kan? namun jawaban yang kudapat membuat tubuhku lemas.</p>
<p>Banyak orang bertanya, <strong>boikot perlu gak sih?</strong><br />
Dengan kekuatan dan kepintaran orang-orang yahudi, berbagai organisasi atau perusahaan-perusahaan internasional berusaha menyumbangkan sebanyak-banyaknya keuntungan yang mereka dapat untuk lembaga Yahudi internasional. Dan sesuai dengan misi utama yahudi menghancurkan palestina, maka dapat dipastikan sumbangan-sumbangan tersebut akan mengalir dan segera bermetamorfosa menjadi bom, peluru, tank, dan entah peralatan perang apalagi.</p>
<p><strong>&#8220;Seorang di antara kalian tidak (dikatakan) beriman sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri&#8221; (Al hadits)<br />
</strong>Ternyata beberapa barang yang kita beli, sebagian keuntungannya dipakai untuk menghancurkan saudara-saudara kita di belahan bumi yang lain. Jika kita berusaha mencintai saudara kita layaknya mencintai diri kita sendiri, posisikan keadaan mereka pada kalian! Relakah kalian dihancurkan oleh barang-barang yang kalian beli sendiri? Relakah kalian memberikan uang pada orang, yang kemudian dari uang itu dibeli sebuah belati untuk menikam kalian? Bukankah muslim itu laksana satu tubuh, ketika bagian tubuh yang satu tersakiti, maka yang lain juga ikut merasakan sakit? Saat terjatuh kita mungkin berteriak, saat menahan sakit kita mengeluarkan air mata.<br />
Jadi mengapa tidak segera menjalankan aksi tersebut, mungkin tidak bisa secara keseluruhan, baru bisa sebagian. Namun itu cukup memberi arti. Tidak ada alasan untuk barang-barang yang memiliki ragam merek dan distribusi cukup besar. Jenis barang yang sama dengan produsen yang berbeda sudah ada di pasaran. Alasan apalagi?<br />
Aku pernah mendengar alasan lucu dari seseorang yang tidak mau mengganti sabun mukanya. &#8220;habis ini yang paling bagus sih, kalo yang lain kualitasnya g jelas&#8221;. My God&#8230;.., apa dengan ganti merk sabun muka kita bertambah jelek? seandainya muka kita bertambah jelek apakah bisa membahayakan nyawa kita? seandainya uang hasil keuntungan tersebut bermetamorfosa menjadi peluru, maka bukankah kita seperti menggadaikan nyawa saudara kita demi sebuah kecantikan jasad? Sungguh rasanya hati ini sakit. Mudahnya mengatakan hal tersebut, di lain pihak aku sering kehausan di suatu tempat karena produk minuman yang dijual cuma dari Coca-cola company dan danone. Produk paling berkualitas, minuman dan makanan paling enak adalah alasan yang sangat sepele (baca:cengeng) dibandingkan nyawa saudara kita. Untuk produk2 darurat yang belum ada penggantinya aku tidak berani berkomentar.</p>
<p>Ada alasan lain lagi yang biasanya dilengkapi dengan komentar menyakitkan. Misalnya kutipan berikut: &#8220;Kita mulai saja dari Unilever. Jadi, kita semua boikot semua produk Unilever.  Otomatis Unilever Indonesia yg akan pertama terkena akibatnya. Kolaps, misalnya. Nah, siapakah yg akan pertama sekali menderita akibatnya? Berapa ribu tenaga kerja  yg akan tiba2 kehilangan mata  pencahariannya? Itu baru tenaga kerja Unilever  sendiri, bagaimana jika ditambah dgn ratusan agen dan distributornya yg tersebar di seluruh Indonesia? Itu baru satu perusahaan. Di masa ekenomi Indonesia yg sedemikian susah, apakah anda dkk akan mau menambah orang2 Indonesia,  orang2 kita sendiri yg menderita lebih dulu akibat boikot seperti itu? &#8220;<br />
Bukankah penghentian karyawan sudah menjadi hal yang biasa saat ini? padahal toh perusahaan2 yang kita boikot belum kolaps.Dan pernah ditayangkan di &#8216;bukan empat mata&#8217;, ternyata kebanyakan orang yang dipecat dari perusahaan memiliki pendapatan yang lebih banyak dari sebelumnya, tentu mereka kerja dan memiliki kreativitas. Bukankah ini sebuah peluang untuk memajukan produk dalam negeri? bukankah ini cara untuk merangsang kreativitas orang? Katanya mau lepas dari cengkraman penjajahan ekonomi di Indonesia, tapi tetep aja mau tergantung dengan perusahaan asing. G pingin maju kayak Iran? China?<br />
Kita terus menerus disuapi oleh asing, dan dengan menghentikan produknya tentu mau tidak mau orang Indonesia akan memakai produk dalam negeri. Jangan katakan kita tidak mampu membuatnya, saya yakin dan tahu betul kita bisa. Hanya saja karya anak bangsa tidak jarang yang mau membeli sehingga produksinya mati dan tidak ada inovasi lagi.<br />
Hal tersebut juga mementahkan pernyataan &#8220;bukankah negara kita bisa melanjutkan hidupnya dengan hutang yang digelontorkan oleh IMF, World Bank, dan saudara2nya? Bukankah mereka yahudi? Lalu kenapa tidak kita haramkan APBN kita? juga gaji para PNS? bukannya sebagian BBM di Indonesia juga dikelola yahudi?&#8221;<br />
<em>Did I told you?</em> Lebih baik berbuat semampu kita daripada tidak sama sekali. Lah bagaimana kita bisa lepas dari itu semua (jika memang yg disebutkan benar2 yahudi) jika tidak <em>take action. </em>Nunggu kapan mas? mereka bangkrut sendiri? Nunggu pemerintahan bersih sendiri? Kita bisa mengalahkan mereka dengan tidak membeli, bukan dengan terus memakai. Trus dianggap apa saudara-saudara kita yg ada di palestina? <strong>Kalo mau semua langsung bersih, ada yang tau pake cara apa? </strong>Kalo di IT sih mungkin bagus pake <em>top-down design</em>, tapi ini bukan lagi bangun <em>software</em>, pake cara <em>bottom-up</em> terbukti lebih efektif. Jadi ingat kata-katanya Ust. Ali Ridho pas ngisi arisannya uswah &#8220;Kita ini bagian bersih-bersih, jadi tukang sapu&#8221;</p>
<p>BTW ini ada beberapa merk yg perlu di boikot, lebih lengkap mungkin bisa cari di <a href="http://infopalestina.com/" target="_blank">http://infopalestina.com/</a></p>

<a href='http://cintaniati.wordpress.com/2009/02/27/boikot-bagiku/boikot_product_israel/' title='boikot_product_israel'><img width="150" height="150" src="http://cintaniati.files.wordpress.com/2009/02/boikot_product_israel.jpg?w=150&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="boikot_product_israel" title="boikot_product_israel" /></a>
<a href='http://cintaniati.wordpress.com/2009/02/27/boikot-bagiku/boikot-produk-amerika1/' title='boikot-produk-amerika1'><img width="150" height="112" src="http://cintaniati.files.wordpress.com/2009/02/boikot-produk-amerika1.jpg?w=150&#038;h=112" class="attachment-thumbnail" alt="boikot-produk-amerika1" title="boikot-produk-amerika1" /></a>

<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cintaniati.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cintaniati.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cintaniati.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cintaniati.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cintaniati.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cintaniati.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cintaniati.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cintaniati.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cintaniati.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cintaniati.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cintaniati.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cintaniati.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cintaniati.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cintaniati.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cintaniati.wordpress.com&amp;blog=6652292&amp;post=33&amp;subd=cintaniati&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cintaniati.wordpress.com/2009/02/27/boikot-bagiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/61eeca3a13c398070a3c30d39b530d36?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cintaniati</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cintaniati.files.wordpress.com/2009/02/boikot_product_israel.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">boikot_product_israel</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://cintaniati.files.wordpress.com/2009/02/boikot-produk-amerika1.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">boikot-produk-amerika1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
