Malam itu aku jalan-jalan ke PRJ bersama adik dan kakakku. Sekedar refreshing dan melepas ridu di kota perantauan sambil cuci mata dan survey harga (banyak amat tujuanx). Keliling-keliling lihat piala UEFA, ke stan motor sport & helmnya, stan hi-tect sampe rumah hantu (masalah beginian, aku dan sodara kompak banget satu selera). Lihat-lihat barang, tertujulah kami pada stan jaket ‘eheem’ yang sudah lama kuinginkan (namanya satu selera, bisa ditebak klo kita saling mupeng). Mulai deh, yang awalnya nggak niat beli jadi kepingin, sifat ceweknya muncul T_T
Tiba-tiba sang sodara menjadikan aku sebagai subyek calon pembeli sekaligus obyek tempat mengukur rancangan jaket bagi si penjualnya. Loh..loh… cuman aku yg mau beli, wah..cepet amat sih dia mutusin, kan aku lihat-lihat dulu. Ternyata sodaraku dan si penjual bergerak lebih cepat dari dugaanku, dan emang dasar akunya ngiler juga, ngikut aja dengan arus yg terjadi. “Sekitar 1,5 kalo yang ini” kata si penjual sambil menunjuk gambar yg dimaksud. Buset.. aku bisa beli 5-7 jaket yang lumayan berkualitas dengan harga segitu. “Jaket ‘eheem’ emang mahal” begitu kata sodaraku, “lagian cuma beli sekali buat seumur hidup, gak apa-apa lah…”
Mikir…mulai ragu… sedangkan sodaraku yg satu lagi cuma duduk di pinggir dengan tampang malas, ‘nih dua orang konsumtif banget sih, apa kerennya jaket gituan’ mungkin itu pikirannya. Ehm… (berhubung aku pemegang keputusan, iyalah wong aku yg dijadikan subyek sama sodaraku), akhirnya kita cuma minta kartu nama sang penjual. “suatu saat..” pikirku, aku akan bener-bener beli
Esoknya aku dan adikku ke BSD, ambil motor dan servis hati mingguan. Aku kembali ke Jakarta sedang dia ke jurang mangu. Kuputuskan naik KRL, jadwal keberangkatan terdekat adalah kelas ekonomi. Hmm… it’s okay, siang-siang begini insyaAllah masih dapat tempat duduk. Dan benarlah.. ketika KRL datang aku dapat duduk dengan tenang.
Kelas ekonomi, kelas termurah dalam KRL ini (ya iya lah.. dimana2 kelas ekonomi pasti yg paling murah, kecuali kalo ada tambahan kelas promo, bisa2 dibawah ekonomi). Satu.. dua..tiga.. pedagang asongan mulai berkeliling, penumpang berdatangan dari stasiun berikutnya, lelaki paruh baya, abg gaul dengan celana pensilnya, ibu-ibu menggendong anak. Pedagang tetap berkeliling menawarkan dagangannya, sepatu butut, celana berlubang, kaos usang. Suara serak keluar dari mulut pengamen kecil. Astaghfirullah… Ya Allah… Ya Allah… Astaghfirullah, hatiku menangis, aku malu, bersedih dengan kondisiku sendiri. Kemarin malam aku tergoda, dan siang ini Engkau Mengingatkanku.
Kemarin malam, ketika aku tertarik membeli jaket dengan harga lebih dari biasanya, hatiku berperang,
‘Cuma sekali, kan aku sudah ingin sejak sangat lama’
‘Yang bener aja, masa aku mau belanjakan uang sebanyak itu cuma buat sepotong jaket’
‘Eh.. ini termasuk murah, kalau di tempat lain mana boleh harga segini, lagian kualitasnya terlihat bagus’
‘Yang ngaku-ngaku pecinta lingkungan mau beli jaket macam beginian? Kalo diluar negeri aku bisa disumpahin sama aktivisnya’
‘Kan aku beli pake uangku sendiri, ntar juga terkumpul lagi… masih bisa….’
Astaghfirullah… sombongnya aku yang sudah bisa beli apa-apa dengan uang sendiri. Darimana itu semua? Darimana? Darimana jika bukan karena rahmat-Nya. Teringat komen salah seorang sepupuku di wall di hari jadiku beberapa saat yang lalu.. ‘U make me remember our beloved Nde’. Nde… adalah seseorang yang sangat berharga dan berpengaruh di keluarga besar ibuku. Nafas terakhirnya hanya terpaut hari dari nafas pertamaku di dunia ini. Nde adalah seorang yang shalih, salah satu tokoh di desa ibuku, aktivis, tampan, baik hati dan penyayang, bagiku benar-benar sempurna. Nde telah melakukan banyak hal untuk keluarga besarku, mendidiknya untuk semakin shalih, dan dia pun telah melakukan banyak hal untuk memperbaiki masyarakatnya. Allah mengambilnya di dunia ini, dan mengizinkanku untuk terlahir di dunia. Menggantikan rasa kehilangan yang dirasakan ibuku dengan sedikit kebahagiaan, walaupun itu tak sebanding. Astaghfirullah, serasa Allah mengirimkanku ke dunia untuk menggantikannya, namun di usiaku yang sekarang, apa yang telah kulakukan, untuk keluargaku, untuk masyarakatku.
Astaghfirullah, malunya aku bila suatu saat di akhirat sana Nde bertanya padaku, ‘apa yang telah kaulakukan di dunia untuk menggantikan keberadaanku?’ ‘Apa yang telah kaulakukan untuk keluargamu, masyarakatmu?’ Hanya seorang Nde, dan aku sudah merasa malu, bagaimana dihadapan para pejuang, bung Tomo, Ahmad Dahlan, Sudirman, apalagi dihadapan Rasulullah, bagaimana malunya aku dihadapan Allah. Allah memberikanku keluarga yang lengkap, tanpa kekurangan, ayah dan ibu yang baik, hidup cukup tanpa kekurangan, pendidikan sampai sarjana, tanpa kendala sedikitpun. Dan setelah mulai menuai sukses dengan sombongnya aku membelanjakan uangku dengan seenak hati. Untuk apa Allah memberiku ini semua, untuk apa? Allah telah memberiku keluarga yang lengkap tapi aku membiarkan anak-anak yatim tak terurus. Allah memberiku keluarga yang harmonis tapi aku tidak berbuat apapun untuk menyelamatkan anak-anak jalanan broken home dari rumah tangga orang tuanya, dari kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan ayah / ibunya, Aku tidak menghiburnya bahkan berkenalan pun tidak. Allah memberikan pendidikan padaku sampai tinggi tapi aku belum punya adik asuh satu pun, belum menularkan ilmuku pada anak-anak putus sekolah, atau mengajari para tamatan SMA/K agar lebih terampil.
Aku belum…. aku belum melakukan apapun…. Allah Mengizinkanku mampu membaca Qur’an, memberiku kesempatan untuk terus memperdalam agamaku, tapi aku tidak memanfaatkan dengan baik, berapa orang buta huruf arab yang telah mampu membaca dariku? Tak ada… aku tak pernah mengajarkannya. Astaghfirullah… aku bangga dengan kemampuanku, bangga dengan semua yang kumiliki, tapi lupa alasan mengapa Allah memberikanku itu semua. Rasanya tak pernah aku hidup susah sejak pertama kali bernafas, tapi tak bersyukur dengan menyalurkannya ke orang lain, dengan mewujudkan kebahagiaan orang lain seperti kebahagiaan yang kurasakan saat ini dan kurasakan setiap hari.
‘Maka nikmat Rabb-mu manakah yang kamu dustakan?’ Astagfirullah… Ya Allah… ampuni aku, maafkan aku. Izinkan aku tetap menjadi diriku yang dulu. Jangan biarkan dunia mengubahku menjadi orang yang tak peduli. Jangan tenggelamkan aku di gemerlapnya dunia yang fana ini. Ya Rabb ampuni aku yang belum melakukan apapun di usiaku yang telah mampu. Yaa Muqallibal-qulb, tsabbit qolbi ‘alaa diinik, ‘alaal Imaan, ‘alaa syukr.



