Robbighfirli Waliwalidaya warhamhuma kama Robbayani shoghiro

Beberapa waktu yang lalu saat lagi di ruang tengah kosan, ada iklan TV yang menampilkan banyak anak kecil. Iklan yang mirip iklan penjualan unit televisi ini ternyata mempromosikan susu formula. Komentar pun mulai bermunculan,

“bagus ya iklan ini”

“anaknya lucu-lucu.. apalagi yg muncul pertama”

“Itu produk susunya bagus lho.. tapi ya gitu mahal, kata temenku sekaleng 225 ribu, dan anaknya ngabisin satu kaleng dalam seminggu.”

“wow gila.. mahal amat….Sebulan sejuta dong cuma buat susu doang”

“iya emang mahal, tapi kualitasnya bagus. Anaknya jadi cerdas gitu, badannya juga bagus. Tapi katanya sih begitu merk susunya diganti yang lebih murah, anaknya nggak mau minum, sudah keenakan dia minum yang mahal.”

 

Hmm… sebulan sejuta cuma buat susu. Aku mulai berpikir… jadi kalo misalnya ngerencanain ngasih anak susu formula terbaik sampai genap 5 tahun bakalan :

1 juta x 12 (bulan) x  4 (tahun) = 48 juta à anggap aja yang 1 tahun asi eksklusif

 

Wow.. pengeluaran orang tua buat susu aja bakalan 48 juta dalam 5 tahun pertama buah hatinya. Aku teringat pembicaraan ibu dan iparku setahun yang lalu “….Iya, Nia dulu waktu kecil juga minum susu itu, emang mahal mbak, tapi bagus..”. Dan aku terus minum susu setiap hari sampai kakiku beranjak meninggalkan kota kelahiranku untuk bekerja. Bahkan aku milkholic, pusing minum susu, pingin ngemil bikin susu kental, kalo bikin juz dikasih susu yg ekstra banyak, so on… and so..on. Walau bukan lagi susu formula yang kuminum, tapi bisa dibilang aku telah minum susu sebanyak jumlah umurku – 1 tahun. Lalu berapa nominal yg telah dikeluarkan orang tuaku hanya untuk susu? sesuatu yang tidak begitu urgent diberikan pada anaknya yg telah meninggalkan status balita, sesuatu yg bahkan orang tua lainnya belum tentu memberikan pada anaknya. Dan orang tuaku tidak memulai rumah tangganya dengan keadaan berpunya.

****

Dua hari yang lalu saat istirahat makan siang, perbincangan mengenai wanita karir dan kewajibannya sebagai seorang ibu dan alasan kawan kerjaku pindah menjadi PNS menjadi topik utama.

“Kalo PNS kan bisa lebih santai, ya aku nggak mau lah nggak professional suka cabut dari tempat kerja, tapi setidaknya sesibuk apapun nanti, nggak bakal sampai pulang pagi. Aku masih punya waktu untuk yang lain”

“Iya… kalo perempuan juga harus mikirin anak juga kan? Emang kayaknya yang pas kalo tetep mau berkarir ya di PNS, atau wirausaha sekalian, jadi waktunya lebih fleksibel.”

“Kalo aku sih emang berencana jadi ibu rumah tangga, kan wirausahanya sudah mulai jalan”

“Iya ini mbak, hebat banget ilmunya, butikmu laris manis.”

“Sepertinya emang ibu itu harusnya lebih banyak dirumah ya.. kerja dari rumah, biar anak-anaknya terawat”

“Tapi.. kalo menurutku lebih kearah kualitas waktu pertemuan mbak, bukan kuantitasnya”

“Iya bener banget..” aku langsung menimpali, “ibuku juga kerja kok mbak, tapi anak-anaknya baik-baik aja, pada nurut semua.”

Aku langsung menceritakan panjang lebar tentang kebiasaan ibuku saat aku kecil, ingin memberikan gambaran pada temanku yang lain bahwa tidak semua wanita karier tidak bisa meng-handle anaknya.

“Aku dulu harus sudah bangun ketika ibuku belum berangkat kerja, yang mandikan tetep beliau, tapi yang ngurus seragam dan sarapanku pembantu. Sepulang kerja jika beliau istirahat, anak-anaknya pada main bola. Kalo nggak sedang istirahat kita nonton tv bareng. Di rumahku dulu, setelah makan malam tv harus mati, dan baru boleh dinyalakan setelah jam 9. Ibuku gantian sih ngajarinnya, kadang aku, kadang adikku, kadang mas-masku. Kalo mau ujian mbak, bukuku dibawa ibuku ke kantor, dipelajari dulu, biasanya sekalian dibikinin soal-soal. Jadi malamnya tinggal main tebak-tebakan sama ibuku, kalo aku nggak mudeng akan diajarin lagi. Biasanya hari minggu ibuku suka masak menu special, trus kita sarapan bareng sambil nonton film kartun” Aku menutup cerita singkat sembari mengingat masa kecilku yg begitu indah.

Bangga… baru merasakan betapa bangganya aku pada ibuku yang tetap bisa mencurahkan semua perhatian pada anak-anaknya walau beliau harus bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Oh.. adakah ibu lain yang sempat memandikan anaknya setelah selesai memasak dan diburu waktu untuk kerja? Adakah ibu lain yang langsung mengambil alih semua pekerjaan selepas pulang kerja? Adakah ibu lain yang merelakan waktu istirahat kantor untuk membaca buku pelajaran anaknya? Berapa banyak ibu yang rela nggak nonton TV agar anak-anaknya belajar? Memeriksa PR anak-anaknya selepas mengantarkan mereka tidur. Dan kami anak-anaknya menikmati pendidikan di sekolah dan perguruan tinggi favorit tanpa harus melakukan kecurangan sedikitpun.

 

Ya Rabb..

Untuk setiap tetes susu yang telah kuteguk

untuk setiap tetes peluh dan mata yang terjaga menahan kantuk

untuk setiap kecemasan kala aku sakit dan kala aku tak segera pulang ke rumah

untuk setiap perbuatanku yang membuat mereka menahan amarah

untuk setiap tetes air mata yang tertumpah pada sujud-sujud mereka di malam hari

demi mendoakan kami—yang bahkan belum berbakti—dengan sangat terperinci

hapuskanlah dosa-dosa mereka

ampunilah segala khilafnya

berkahilah umurnya dan berikanlah kesehatan sampai akhir hayatnya

rawat dan bahagiakanlah mereka seperti mereka merawat dan membahagiakan kami.

Selamatkan kami semua di dunia-Mu yang fana ini, dan di akhirat-Mu yang kekal nanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.