Kisah Nia Kecil dan Nasi Goreng

Suatu siang di taman kanak-kanak Sakinah (gara-gara pingin ke one-stop-shopping Sakinah, TKnya dikasih nama itu), terlihat ibu guru sedang sibuk memberikan penjelasan pada murid-muridnya “Anak-anak, hari ini makan siang kita akan beraneka ragam. Setiap anak akan diberikan satu kupon untuk ditukarkan dengan sepiring makanan. Anak-anak juga bisa melihat ibu koki memasak dan menyiapkan makanan yang sudah dipesan.”

“Kita boleh memilih kan bu guru?”

“Boleh, tetapi lebih baik anak-anak bertanya pada ibu guru dahulu, makanan apa yang sesuai untuk kita. Ibu sudah punya daftar makanan dan catatan kesehatan dari bunda kalian.”

“Yee…..”serentak anak-anak TK tersebut bersorak gembira. Di sekeliling mereka berjajar stan kecil yang menyediakan berbagai jenis makanan. Ibu guru kemudian memanggil muridnya satu persatu untuk memberikan kupon, seraya memberikan saran makanan apa yang sebaiknya dipesan,

“Aldo, kata mama nggak boleh makan telur ya? Kalau begitu jangan ambil sate telur puyuh, dadar jagung atau perkedel ya. Selain itu terserah, itu ada sayur asem, cah sawi, sate ayam, tempe, ikan, pilih yang Aldo suka”

“Baik Bu Guru” anak yang dipanggil Aldo menerima kupon dengan senyum riang, lalu berlari kecil menuju stan sate ayam.

“Dina, suka gatal-gatal ya kalo makan sari laut. Kalau begitu jangan ambil ikan dan kerang ya, selain itu boleh”

“Asyik…, terima kasih Bu” Gadis kecil tersebut mengambil kupon kemudian berjalan melihat-lihat isi stan sebelum menentukan pilihan.

Ibu guru meneruskan pekerjaannya sampai anak didiknya terpanggil semua. Halaman taman kanak-kanak tersebut kini dihiasi dengan antrian murid pada stan-stan makanan, sebagian kecil telah duduk di meja makan sambil melahap makanan yang telah di pesannya. Ibu guru tersenyum puas, murid-muridnya telah menerapkan budaya antri yang telah diajarkan, mereka tidak lagi makan sambil berjalan atau berdiri. Diujung halaman sekolah terdengar suara kecewa dari murid TK Sakinah, ternyata stan nasi goreng kehabisan stok bahan makanan. “Adik-adik maaf ya, ini bumbunya habis, kakak harus menyiapkan dulu dan agak lama. Sepertinya lebih baik memesan di stan lain ya, sudah banyak yang sepi” kata kakak yang menjadi koki stan nasi goreng. Murid-murid yang awalnya mengantri kini mulai bubar dan melihat-lihat makanan di stan lain, namun ada satu murid yang tidak beranjak dari stan tersebut.

“Adik nggak ke stan lain? Agak lama lho nunggunya. Nanti keburu lapar, coba ke yang lain saja, enak-enak kok”

“Enggak, aku  mau nasi goreng. Nggak apa-apa aku tungguin, soalnya keliatannya enak, lucu ada mentimunnya, ada tomat tapi seperti mawar” kata Nia, gadis kecil yang setia berdiri di dekat stan nasi goreng.

“Ini cuma hiasan dik, garnish, biar kelihatan bagus, memang bisa dimakan kok. Tapi enak atau enggaknya nasi goreng bukan dilihat dari hiasan, nunggunya sabar ya” kata kakak koki berusaha menjelaskan.

Ibu guru yang melihat kejadian tersebut menghampiri stan nasi goreng dan menyapa muridnya

“Nia nggak ke stan yang lain?” Tanya ibu Guru, “bukanya Nia nggak suka pedas ya, nasi gorengnya pakai cabai lho”

“Nggak bu, nggak apa-apa pedas, nasi gorengnya enak, lucu ada mawar-mawarnya, pake sosis juga, hmm.. pasti enak”

“Nia suka nasi goreng ya?” Tanya ibu guru lagi.

“Nia belum pernah makan nasi goreng bu guru, tapi pasti enak” kata Nia dengan semangat. “Kruuk….” Suara perut Nia terdengar, dia mulai kelaparan.

“Nia, itu ada sate kalau mau, nggak apa-apa makan sate aja ya, kamu kan punya maag. Atau, itu ada cah sawi, makan pakai lauk kerang, enak..nanti tubuh kita sehat makan banyak sayur..” nasehat Ibu Guru sambil memperagakan gerakan ‘sehat’ dengan mengepalkan tangan dan membentuk sudut siku dengan siku tangannya, seperti orang sedang latihan angkat beban.

“Enggak… Nia kuat kok, Nia mau nungguin nasi goreng” jawab si gadis kecil sambil memanyunkan bibirnya yang berbentuk huruf O. Ibu guru mulai khawatir, dia meminta sang koki untuk bergerak cepat dan menyelesaikan maha karya nasi gorengnya (Lebay mode: on). Koki yang mulai panik segera mempercepat jurus-jurusnya, bumbu yang diolahnya belum lembut benar, “Ah.. nggak usah lembut, yang penting segera jadi” pikir si koki dalam hati.

Nia mulai meringis kelaparan, sementara sang Ibu guru terlihat khawatir dengan kondisi muridnya, dia terus membujuk dengan cara apapun tetapi belum berhasil.

Sreng… sreng…sreng….  Nasi goreng dipindahkan dari wajan ke piring kosong. “Ah.. akhirnya selesai juga, kurang dari 5 menit, rekor baru…”kata sang koki dalam hati. Dia hanya mengkhawatirkan gadis kecil yang menanti di depannya.

Akhirnya… nasi goreng yang ditunggu-tunggu Nia selesai dibuat, dia tersenyum lebar, penantian dan pengorbanannya menahan lapar tidak sia-sia (lebay lagi deh). Dia segera memberikan kuponnya pada sang koki, mengambil nasi goreng yang sudah dipindahkan ke piring, kemudian bergegas menuju meja makan.

“Wah… Nia tadi nunggu nasi goreng ya? Sepertinya enak” kata Dina, dia awalnya mengantri ke stan nasi goreng sebelum akhirnya kakak koki menyarankan ke stan lain. Mendengar hal tersebut, Nia tersenyum, senyum kemenangan, penantian membuahkan hasil. “Tapi sayur asem sama dadar jangung juga enak, seger. Besok aku mau minta mama masak sayur asem” lanjut Dina kemudian.

Nia mulai menyendok nasi gorengnya, hmm… baunya sedap. Hap, dia melahap nasi goreng untuk pertama kalinya, namun, senyum sumringahnya berubah mendadak menjadi masam dan berkaca-kaca, “Pedes….., hwua….” Nia mulai menangis dan menggemparkan meja makan (lebay lagi :D )

Si koki bingung, dia sudah menyingkirkan cabe rawit tapi Si Nia kecil masih kepedasan. Dia kemudian mencicipi nasi goreng yang dibuatnya, “ehh…., nggak enak, keasinan, wah… gara-gara buru-buru..” batinnya dalam hati. Ternyata si Nia kecil tidak suka nasi goreng, walau tanpa cabe rawit sekalipun, rasanya tetap tidak enak, ditambah lagi si koki terlalu banyak memasukkan garam. Penantian Nia yang lama, pengorbanannya menahan lapar, tidak terbayarkan dengan nasi goreng berwujud cantik dengan garnish tomat berbentuk mawar.

Itulah, kadang kita membutuhkan sesuatu, sesuatu yang penting dalam hidup kita yang berwujud dengan berbagai bentuk dan model, seperti makanan dengan berbagai kreasinya. Kita terpikat pada sesuatu yang menarik, seperti Nia kecil yang tertarik pada nasi goreng, dia berpikir akan puas memakan nasi goreng tersebut, dan terpenuhilah kebutuhannya untuk makan. Dia menahan lapar, tidak peduli dengan maag di lambungnya, tidak peduli betapa bahayanya dia menunda pemenuhan hajat hidupnya (makan). Namun apa yang dia dapatkan, kekecewaan, ternyata harapan tak sesuai kenyataan, penantian lama berbuah kepahitan. Menyesal, andai dia turuti ibu gurunya, tak perlu dia membahayakan lambungnya, tak perlu menanti sesuatu yang tak pasti, sesuatu yang justru mengecewakan. Nia sadar, gurunya mengerti lebih baik tentang apa yang dia butuhkan, apa yang terbaik baginya. Namun egonya lebih mendominasi, seakan dia tahu apa yang terbaik untuknya, tanpa konsultasi lebih lanjut, dia putuskan sekehendak dia, menanti nasi goreng yang hanya terlihat enak diluar, namun pedas dan membakar mulutnya. Dia terlambat, kuponnya sudah tertukar, dengan sepiring nasi goreng yang ada di hadapannya. Tak mungkin ia buang, gurunya mengajarkan untuk tidak membuang makanan, lagipula ia sedang kelaparan. Namun, bagaimana dia mau menghabiskan nasi goreng tersebut, baru sedikit yang ia masukkan ke dalam mulut, rasa panas membakar segera menjalar. Lambung… dia punya maag, apa yang terjadi seandainya dia tetap memakan nasi goreng tersebut?

Kisah buat temen2 semua…. Jangan jadi Nia kecil yang menunggu nasi goreng tadi ya, gak jelas kok ditungguin, apalagi ternyata gak enak. Masih ada sayur asem dan lain-lain yg lebih bergizi :D

5 responses to this post.

  1. Posted by fatih on August 19, 2010 at 9:04 am

    kesindir aku Nia…

    Reply

  2. Posted by penabuh gendang on August 23, 2010 at 6:03 pm

    Great posting. Kata seseorang penulis, “To love is to risk not being loved in return. To hope is to risk pain. To try is to risk failure, but risk must be taken because the greatest hazard in life is to risk nothing.”

    Harapan yang membuat orang maju dan mundur, harapan juga yang membuat orang belajar. Hidup itu pilihan.

    Mungkin bagi Nia kecil (perasaan emang masih kayak anak kecil, xixixixi) nasi goreng itu bisa membuat kapok dia untuk nunggu nasi goreng itu lagi, but life is not that simple, ada banyak alasan yang membuat Nia kecil kembali untuk mencoba nasi goreng itu lagi….taruhan??
    :D dungaren lebay mode on…cerita yang bagus…keep posting gan!!

    Reply

  3. Posted by cintaniati on August 25, 2010 at 6:45 pm

    @mas fatih : sengojo mas, peace :D
    @penabuh gendang (suka banget gonta ganti nama): sebelah mana aq kayak anak kecil? ketularan sampeyan kalee. Tapi.. emang bener, g ada tantangan gak seru, I’m a risk taker :D
    tapi ada beberapa sisi yg harusnya g boleh nunggu kakak

    Reply

  4. Posted by madna on August 26, 2010 at 10:33 pm

    hmm … hidup dan pengalaman adalah pembelajaran … apa yang dilakukan Nia kecil adalah pembelajaran baginya bahwa dia tidak seharusnya menunggu nasi goreng dan memilih yang lain yang lebih sesuai dengan kebutuhannya. Namun memang susah jika kita berbicara tentang ego manusia. Karena ego bisa melawan logika apapun terutama bagi orang-orang yang bersifat self-centered. Yang bisa kita harapkan bahwa Nia kecil juga bisa belajar untuk memikirkan nasehat orang-orang yang disekitarnya dan tidak lagi berfikir dalam koridor egonya semata.

    NB: penasaran ama analogi nasi gorengnya. masak nasi goreng ya … hmm …

    Reply

  5. Posted by penabuh gendang on August 27, 2010 at 5:04 pm

    emang sapa yang ganti2 nama?? emang weruh aku sopo??? xixixixi…risk taker? :) ) ya memang ada beberapa hal yang ndak bisa nunggu….semoga lah yang kamu pilih sebagai pengganti yang kamu tunggu jadi lebih baik buat kamu :D

    sing koyok arek cilik iku awakmu :P

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.