Boikot, bagiku….

Sekitar sebulan yang lalu palestina dihujani bom oleh Israel, begitu banyak jiwa melayang, anak-anak kecil para hafidzoh konon menjadi targetnya. Dalam suasana genting, aksi solidaritas di berbagai belahan bumi bermunculan, baik yang muslim maupun bukan. Sumbangan uang, do’a, dan seruan penghentian perang disuarakan oleh banyak pihak. Kelakuan zionis memang amat kejam, perintah PBB pun diabaikan. Namun akhirnya, terjadilah gencatan senjata, perang pun mereda. But wait, is this the end? Or there will be another war?Seminggu yg lalu aku sempat bertanya pada seorang teman yang sedang membagikan barang dagangannya yang tersisa.  Lalu iseng aku bertanya, ini bukan produk nestle lagi kan? namun jawaban yang kudapat membuat tubuhku lemas.

Banyak orang bertanya, boikot perlu gak sih?
Dengan kekuatan dan kepintaran orang-orang yahudi, berbagai organisasi atau perusahaan-perusahaan internasional berusaha menyumbangkan sebanyak-banyaknya keuntungan yang mereka dapat untuk lembaga Yahudi internasional. Dan sesuai dengan misi utama yahudi menghancurkan palestina, maka dapat dipastikan sumbangan-sumbangan tersebut akan mengalir dan segera bermetamorfosa menjadi bom, peluru, tank, dan entah peralatan perang apalagi.

“Seorang di antara kalian tidak (dikatakan) beriman sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (Al hadits)
Ternyata beberapa barang yang kita beli, sebagian keuntungannya dipakai untuk menghancurkan saudara-saudara kita di belahan bumi yang lain. Jika kita berusaha mencintai saudara kita layaknya mencintai diri kita sendiri, posisikan keadaan mereka pada kalian! Relakah kalian dihancurkan oleh barang-barang yang kalian beli sendiri? Relakah kalian memberikan uang pada orang, yang kemudian dari uang itu dibeli sebuah belati untuk menikam kalian? Bukankah muslim itu laksana satu tubuh, ketika bagian tubuh yang satu tersakiti, maka yang lain juga ikut merasakan sakit? Saat terjatuh kita mungkin berteriak, saat menahan sakit kita mengeluarkan air mata.
Jadi mengapa tidak segera menjalankan aksi tersebut, mungkin tidak bisa secara keseluruhan, baru bisa sebagian. Namun itu cukup memberi arti. Tidak ada alasan untuk barang-barang yang memiliki ragam merek dan distribusi cukup besar. Jenis barang yang sama dengan produsen yang berbeda sudah ada di pasaran. Alasan apalagi?
Aku pernah mendengar alasan lucu dari seseorang yang tidak mau mengganti sabun mukanya. “habis ini yang paling bagus sih, kalo yang lain kualitasnya g jelas”. My God….., apa dengan ganti merk sabun muka kita bertambah jelek? seandainya muka kita bertambah jelek apakah bisa membahayakan nyawa kita? seandainya uang hasil keuntungan tersebut bermetamorfosa menjadi peluru, maka bukankah kita seperti menggadaikan nyawa saudara kita demi sebuah kecantikan jasad? Sungguh rasanya hati ini sakit. Mudahnya mengatakan hal tersebut, di lain pihak aku sering kehausan di suatu tempat karena produk minuman yang dijual cuma dari Coca-cola company dan danone. Produk paling berkualitas, minuman dan makanan paling enak adalah alasan yang sangat sepele (baca:cengeng) dibandingkan nyawa saudara kita. Untuk produk2 darurat yang belum ada penggantinya aku tidak berani berkomentar.

Ada alasan lain lagi yang biasanya dilengkapi dengan komentar menyakitkan. Misalnya kutipan berikut: “Kita mulai saja dari Unilever. Jadi, kita semua boikot semua produk Unilever.  Otomatis Unilever Indonesia yg akan pertama terkena akibatnya. Kolaps, misalnya. Nah, siapakah yg akan pertama sekali menderita akibatnya? Berapa ribu tenaga kerja  yg akan tiba2 kehilangan mata  pencahariannya? Itu baru tenaga kerja Unilever  sendiri, bagaimana jika ditambah dgn ratusan agen dan distributornya yg tersebar di seluruh Indonesia? Itu baru satu perusahaan. Di masa ekenomi Indonesia yg sedemikian susah, apakah anda dkk akan mau menambah orang2 Indonesia,  orang2 kita sendiri yg menderita lebih dulu akibat boikot seperti itu? “
Bukankah penghentian karyawan sudah menjadi hal yang biasa saat ini? padahal toh perusahaan2 yang kita boikot belum kolaps.Dan pernah ditayangkan di ‘bukan empat mata’, ternyata kebanyakan orang yang dipecat dari perusahaan memiliki pendapatan yang lebih banyak dari sebelumnya, tentu mereka kerja dan memiliki kreativitas. Bukankah ini sebuah peluang untuk memajukan produk dalam negeri? bukankah ini cara untuk merangsang kreativitas orang? Katanya mau lepas dari cengkraman penjajahan ekonomi di Indonesia, tapi tetep aja mau tergantung dengan perusahaan asing. G pingin maju kayak Iran? China?
Kita terus menerus disuapi oleh asing, dan dengan menghentikan produknya tentu mau tidak mau orang Indonesia akan memakai produk dalam negeri. Jangan katakan kita tidak mampu membuatnya, saya yakin dan tahu betul kita bisa. Hanya saja karya anak bangsa tidak jarang yang mau membeli sehingga produksinya mati dan tidak ada inovasi lagi.
Hal tersebut juga mementahkan pernyataan “bukankah negara kita bisa melanjutkan hidupnya dengan hutang yang digelontorkan oleh IMF, World Bank, dan saudara2nya? Bukankah mereka yahudi? Lalu kenapa tidak kita haramkan APBN kita? juga gaji para PNS? bukannya sebagian BBM di Indonesia juga dikelola yahudi?”
Did I told you? Lebih baik berbuat semampu kita daripada tidak sama sekali. Lah bagaimana kita bisa lepas dari itu semua (jika memang yg disebutkan benar2 yahudi) jika tidak take action. Nunggu kapan mas? mereka bangkrut sendiri? Nunggu pemerintahan bersih sendiri? Kita bisa mengalahkan mereka dengan tidak membeli, bukan dengan terus memakai. Trus dianggap apa saudara-saudara kita yg ada di palestina? Kalo mau semua langsung bersih, ada yang tau pake cara apa? Kalo di IT sih mungkin bagus pake top-down design, tapi ini bukan lagi bangun software, pake cara bottom-up terbukti lebih efektif. Jadi ingat kata-katanya Ust. Ali Ridho pas ngisi arisannya uswah “Kita ini bagian bersih-bersih, jadi tukang sapu”

BTW ini ada beberapa merk yg perlu di boikot, lebih lengkap mungkin bisa cari di http://infopalestina.com/

Advertisement

3 responses to this post.

  1. Posted by penabuh gendang on February 27, 2010 at 5:05 pm

    Sebenernya setuju atau ndak masalah boikot itu perlu dikembalikan pada individu masing masing….ambil contohlah ketika khamr pada jaman Rasulullah.
    Sebelum perintah khamr diturunkan, Rasulullah memang tidak pernah meminum khamr setetespun, tetapi beliau pun tidak melarang sahabat – sahabatnya meminum khamr terutama sehabis peperangan. Ketika perintah haramnya khamr turun, maka secara tegas Rasulullah memberikan larangan meminum khamr pada umatnya, dan umatnya menuruti secara keseluruhan pula tanpa meragukan sedikitpun.
    Nah…kalau dilihat dari konteks boikot barang barang Israel ini, y pertama dilihat dari konteks haram halalnya dulu (aku yakin kamu setuju). Yang kedua, dilihat pula dari konteks mudharat yang dibawa ketika barang itu tidak dipakai, kalau mudharat yang dibawa ketika barang itu tidak dipakai ternyata besar untuk kita (contoh misal obat obatan atau kendaraan bermotor), ya jangan maksa…kalau bisa nyari solusi lain ndak masalah, kalau ternyata solusinya minim dan malah membawa mudharat yang lebih besar kalau dipakai misal harganya lebih mahal (ya berpikir logis aja…siapa to yang ndak butuh uang), ya juga ndak usah memaksa kecuali kalau memang memiliki rejeki yang cukup (lihat kebutuhan anak istri dan keluarga juga).
    Belajar dan yakin, itu kuncinya kalau mau lepas dari hal hal semacam itu. Kita belajar agar bisa mandiri dari hal hal seperti itu, dan yakin, mungkin bukan masa kita, para kaum zionis itu takluk di tangan Islam, dengan catatan, kita memulai untuk mendidik diri dan lingkungan untuk tahu yang benar dan yang salah (jangan lupa, ketika khamr belum diharamkan, Rasulullah memberi contoh dengan tidak meminumnya).

    Reply

    • Posted by cintaniati on August 13, 2010 at 4:47 pm

      yup, beberapa sepakat, berarti sekarang saatnya kita memberi contoh kan sobat. Saatnya kita mencari solusi, belajar mandiri, mulai mendidik diri dan lingkungan.
      Ayok rame2 dikerjain bareng-bareng, saatnya kerja real :D
      Tapi kalo barang yang sudah bisa ditinggalkan kan lebih baik ditinggalkan. Sepakat?

      Reply

  2. Posted by penabuh gendang on August 23, 2010 at 5:54 pm

    hem….ajakan atau sindiran ya?? :) ) tapi boleh lah….meninggalkan barang barang yang ndak perlu, mau produk Israel atau ndak :D

    SEPAKAT BU!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.